Modul ini berfungsi sebagai penutup mata kuliah — bukan materi baru, melainkan kesempatan untuk menguji kemampuan peserta mengintegrasikan seluruh kompetensi Modul 1–9 dalam satu simulasi kasus yang menyerupai kompleksitas nyata di lapangan.
Review dan simulasi ini penting untuk memastikan peserta tidak hanya memahami setiap topik secara terpisah, tetapi juga mampu mengambil keputusan terintegrasi dengan cepat, sebagaimana akan dituntut dalam tugas nyata sebagai dokter kloter.
Simulasi disusun sebagai skenario berkembang (evolving case) yang dimulai dari data pemetaan profil komorbid kloter (Modul 1), kemudian memunculkan kejadian klinis yang menuntut penerapan berurutan: manajemen hipertensi/diabetes (Modul 2–3), evaluasi kardiovaskular (Modul 4), kewaspadaan kognitif (Modul 5), skrining gizi (Modul 6), hingga keputusan memasukkan jemaah ke program case management (Modul 7) dan menghadapi tekanan fase puncak ibadah (Modul 9).
Simulasi dilaksanakan dalam kelompok kecil dengan satu peserta berperan sebagai dokter kloter, peserta lain sebagai perawat/pendamping/anggota keluarga, dan fasilitator memberikan perkembangan skenario secara bertahap sesuai respons peserta. Setiap keputusan peserta dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan algoritma dan prinsip yang telah dipelajari pada Modul 1–9, bukan hanya berdasarkan hasil akhir skenario.
Evaluasi akhir simulasi menekankan pada tiga aspek: ketepatan urutan prioritas tatalaksana saat menghadapi presentasi gejala tumpang tindih, kualitas komunikasi dengan jemaah/keluarga (termasuk keseimbangan antara kewaspadaan klinis dan penghormatan martabat), dan kelengkapan dokumentasi yang memungkinkan tim lain melanjutkan penanganan. Umpan balik fasilitator difokuskan pada pola pengambilan keputusan peserta, bukan sekadar benar/salahnya satu langkah tunggal.
Sebuah kelompok simulasi diberikan skenario: seorang jemaah lansia dengan tiga komorbid (hipertensi, diabetes, riwayat gagal jantung ringan) menunjukkan kebingungan mendadak saat berjalan menuju Jamarat pada hari-hari Tasyrik. Peserta yang berperan sebagai dokter kloter perlu menentukan langkah pertama (evaluasi gula darah dan hidrasi dahulu, sebagaimana prinsip Modul 9), mengoordinasikan buddy system untuk memastikan jemaah tidak terpisah dari kelompok (Modul 5), dan pada akhir sesi menetapkan apakah jemaah ini kini memenuhi kriteria case management individual untuk sisa musim haji (Modul 7). Fasilitator menilai bukan hanya ketepatan medis, tetapi juga bagaimana peserta mengomunikasikan keputusan ini kepada 'keluarga' jemaah dalam simulasi.
Sesi 2 (Minggu 6–10) · Minggu ke-10