Dokter kloter yang ingin mengevaluasi mengapa kloternya mengalami lonjakan kasus tertentu tidak memerlukan keahlian riset akademik penuh — memahami tiga desain dasar ini sudah cukup untuk melakukan evaluasi terstruktur yang bermakna, bukan sekadar kesan subjektif.
Modul ini penting karena kemampuan memilih pendekatan evaluasi yang tepat menentukan apakah kesimpulan yang diambil dokter kloter cukup valid untuk dijadikan dasar rekomendasi kepada KKHI Sektor (lihat MK06 Modul 3).
Mengingat keterbatasan waktu, pendekatan cross-sectional — mengambil gambaran satu titik waktu, misalnya survei singkat keluhan kesehatan pada jemaah kloter — adalah pendekatan yang paling praktis dan cepat dilaksanakan dokter kloter. Kekuatannya adalah kepraktisan; kelemahannya adalah ketidakmampuan menetapkan hubungan sebab-akibat yang pasti.
Untuk kejadian yang relatif jarang seperti kematian mendadak atau kejadian kardiovaskular akut berat, dokter kloter dapat membandingkan jemaah yang mengalami kejadian tersebut (kasus) dengan jemaah tanpa kejadian dalam kloter yang sama (kontrol). Karena berasal dari kloter yang sama, faktor seperti jadwal ibadah dan suhu yang dialami otomatis terkendali, tersisa faktor individu (usia, komorbiditas — lihat MK05) sebagai pembeda utama.
Dokter kloter juga dapat memanfaatkan data administratif SISKOHAT yang menghubungkan status pemeriksaan pra-keberangkatan (sebagai 'eksposur') dengan kejadian kesehatan selama musim haji (sebagai 'outcome') yang tercatat pada rekam medis TKHI/KKHI — pendekatan ini menuntut kualitas data yang baik, sebagaimana dibahas pada Modul 3.
| Desain | Kelebihan | Kelemahan/Keterbatasan |
|---|---|---|
| Cross-sectional | Praktis, cepat dilaksanakan | Tidak dapat menetapkan hubungan temporal sebab-akibat |
| Kasus-kontrol berbasis kloter | Efisien untuk kejadian jarang, mengendalikan faktor lingkungan otomatis | Rentan bias seleksi kontrol bila tidak diambil acak |
| Kohort retrospektif (SISKOHAT) | Dapat menganalisis eksposur-outcome | Bergantung pada kualitas linkage data (Modul 3) |
Dalam satu kloter berisi 350 jemaah, 8 orang mengalami kejadian kardiovaskular akut selama sepuluh hari pertama. Dokter kloter membandingkan ke-8 kasus ini dengan 32 jemaah kontrol yang dipilih acak dari kloter yang sama. Karena semua berasal dari kloter yang sama, faktor seperti jadwal ibadah dan suhu yang dialami otomatis terkendali, tersisa faktor individu (usia, komorbiditas) sebagai pembeda utama yang dapat ia laporkan sebagai temuan awal kepada KKHI Sektor.
Sesi 1 (Minggu 1–5) · Minggu ke-2