Dokter kloter tidak perlu menjadi ahli biostatistik, namun memahami mengapa data kesehatan haji memerlukan kehati-hatian statistik khusus membantunya membaca laporan evaluasi dari KKHI/Kemenkes secara lebih kritis, dan mengetahui kapan perlu melibatkan tenaga epidemiologi.
Modul ini penting sebagai pengantar konseptual, bukan pelatihan teknis analisis statistik mendalam, agar dokter kloter memiliki kosakata dasar untuk berdiskusi dengan tim epidemiologi/biostatistik bila kloternya dilibatkan dalam evaluasi atau riset formal.
Data kesehatan haji sering memiliki karakteristik yang menuntut kehati-hatian dalam pemilihan uji statistik: ukuran sampel yang bervariasi antar-kloter, distribusi data yang seringkali tidak normal (misalnya durasi rawat di KKHI), serta struktur data berjenjang (individu jemaah tersarang dalam kloter, kloter tersarang dalam kelompok terbang embarkasi).
Regresi logistik adalah alat analisis yang paling sering digunakan untuk outcome biner yang umum dalam data haji, seperti kejadian heat stroke (ya/tidak) atau kematian (ya/tidak). Interpretasi odds ratio dari model ini perlu disampaikan secara hati-hati dan diterjemahkan ke bahasa praktis (lihat Modul 10), bukan disampaikan sebagai angka statistik mentah kepada pihak yang tidak familiar.
Mengingat struktur data tersarang (individu dalam kloter), model regresi multilevel menjadi pendekatan yang lebih tepat dibandingkan regresi konvensional, karena mampu mengakomodasi variasi antar-kloter yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel individu semata — misalnya perbedaan kualitas pendampingan TKHI antar-kloter yang dapat memengaruhi outcome kesehatan jemaah secara sistematis.
Untuk pertanyaan yang melibatkan waktu hingga terjadinya suatu kejadian kesehatan (misalnya waktu sejak kedatangan hingga kejadian heat stroke pertama), analisis survival menyediakan kerangka yang lebih informatif dibandingkan analisis biner sederhana.
Seorang dokter kloter membaca laporan evaluasi KKHI Daker yang menyebutkan 'variasi kejadian heat exhaustion antar-kloter tidak sepenuhnya dijelaskan oleh karakteristik individu jemaah'. Memahami konsep model multilevel dari modul ini, ia menyadari bahwa temuan tersebut mengarah pada kemungkinan adanya perbedaan kualitas pendampingan TKHI antar-kloter — sebuah temuan yang mendorongnya mengevaluasi kembali praktik pendampingan timnya sendiri, alih-alih hanya menganggap variasi tersebut sebagai kebetulan acak.
Sesi 2 (Minggu 6–10) · Minggu ke-6